Kamis, 11 Juni 2009

सुअतु सात दलम टैक्सी

"Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya seperti kita melakukan untuk Tuhan".

Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk
'memanjakan' diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan
tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Terus terang saya sudah malas dengan
segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang
malam. Dari Senin sampai Sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai olehnya.
Jadi aku pikir "masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah
deh, nanti jadinya apa. Gua kaga peduli". Jadi Sabtu kemarin aku habiskan waktu dengan
tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak
di atas meja tidak aku sentuh sedikit pun. "Masa bodoh" pikirku.

Sendok suapan terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi segala
dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi. Sudah 5 menit aku
menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang juga.
"Daerah kota pak," seruku pada supir taxi.
"Kotanya di mana pak?", dia menimpali.
"Wah, namanya apa yah?" aku sendiri tidak begitu ingat. "Nanti saya tunjukkan jalannya
kalau sudah sampai di sana "
"Baik Pak". Suasana hening.
Tidak beberapa lama pak supir berkata, "Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak,
naik dari Taman Anggrek".
Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland.
"Kok mau sih pak?" ucapku.
"Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak",
ujarnya dengan logat batak yang masih terasa. "Kalo supir lain sih
pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh berkat dari Tuhan."
"Wah, berfilsafat dia.", pikirku.
"Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang
10.000. padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga.
Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru.
Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati kan ".
"Iya juga yah", pikirku.
Suasana hening kembali.
Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir
taxi yang lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut. "Bapak sudah lama jadi sopir taxi",
tanyaku memecah keheningan.
"Baru empat tahun Pak."
"Sebelumnya kerja di mana?"
"Dulu saya kerja di perhotelan."
"Kerja di bagian apa Pak?"
"Manager operasional"
Hah? Tidak salah dengar ? Manager ? Gak mungkin ah.. "Anak buahnya banyak pak?",
tanyaku sedikit menyelidik.
"Ada sekitar 100 orang" "Terus, koq sekarang malah jadi sopir taxi"
"Wah, panjang ceritanya Pak."
"Oh.", gumamku dan tidak bertanya lebih lanjut, kelihatannya ada kenangan pahit yang
dia alami.
"Biasalah pak korban kena sikut", ujarnya meneruskan, "Padahal dia teman baik saya.
Tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Tapi buat saya itu ngak masalah. Saya
percaya Tuhan pasti akan tetap pelihara saya. Buktinya saya langsung bisa dapat
pekerjaan lagi. Walaupun tidak sehebat seperti dahulu. Yah, sudah cukup lah, untuk
kebutuhan sehari-hari".
"Kenapa Bapak tidak mencoba melamar di hotel lain?"
"Nama saya sudah rusak Pak."
"Pasti karena di fitnah oleh teman baiknya itu", pikir ku.
Kuperhatikan lagi wajahnya. Tetap ceria seperti tadi. Tidak nampak terbeban.
"Lebih enak jadi sopir atau kerja seperti dulu Pak?", tanyaku.
"Wah, enak atau enggak tergantung hati kita Pak. Pokoknya kita mesti sadar, bahwa apa
yang kita punya saat ini, Tuhan yang memberi. Mengucap syukur
senantiasa. Sukacita bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita. Jadi kalau
ditanya lebih enak mana, dulu atau sekarang, jawabannya yah: dua-duanya. Mau jadi apa
aja ngak masalah, yang penting ada rasa syukur, pasti sukacita itu datang dengan
sendirinya."

Wah, jadi malu aku. Aku yang sejak kecil di didik dalam keluarga percaya, masih
mengeluh kan pekerjaan yang saya terima. Padahal kalau dibandingkan dengan sopir taxi,
pekerjaan saya jauh lebih enak. Dengan penghasilan yang lebih tinggi tentunya. Tapi,
dasar ! Nggak ada ucapan syukurnya. Aku jadi teringat akan nasehat yang mengatakan
"Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah segala sesuatu seperti kita melakukan untuk
Tuhan".

Hmmm, hari ini aku di sadarkan kan oleh seorang supir taxi.
Hari ini aku dikuatkan kembali untuk selalu bersyukur dalam segala hal.

Kunaikkan syukur ku buat hari yang Kau beri
Tak habis - habisnya, kasih dan rahmatMu
Selalu baru dan tak pernah terlambat pertolonganMu
Besar setia-Mu disepanjang hidup ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar